Home / publikasi / Ideologi v Kepentingan (Golongan)

Ideologi v Kepentingan (Golongan)

Ideologi Pancasila - Ideologi versus kepentingan (golongan). Ilustrasi: Danang Blogs via Google Image
Organisasi (gerakan) mahasiswa adalah bagian dari organisasi kemasyarakatan dan pemuda (OKP) telah terbukti memiliki sumbangsih nyata kepada bangsa dan negara ini dalam mengawal proses demokrasi dan kepemimpinan sejak era pra-kemerdekaan hingga kini.

Geraknya yang senantiasa menghembuskan angin perubahan berperan sebagai katalisator yang mempercepat proses keterbukaan pola pikir sebagian besar masyarakat Indonesia dengan mampu berpikir kritis transformatif.

Berbagai organ gerakan mahasiswa dengan berbagai ideologi yang melatarbelakangi pula -agama, nasionalis, bahkan sosialis- pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni kesejahteraan sosial (sosial welfare). Meskipun, masing-masing memiliki cara maupun paradigma penyelesaian masalah yang berbeda dan bahkan bertentangan satu dengan lainnya.

Hal itu berarti perbedaan di antara mereka hanya pada metode atau cara untuk mencapai tujuan tersebut. Tidak ada permasalahan yang serius jika setiap organ konsisten dalam usaha pencapaian tujuan secara masksimal, tanpa harus berkutat dalam perdebatan atas kebenaran metode yang berbeda.

Perdebatan di antara organ gerakan mahasiswa hingga perselisihan nyata (saling 'menikam') yang akhirnya menimbulkan sektarian satu sama lain hanya akan merugikan dunia gerakan mahasiswa itu sendiri dalam tanggung jawab melakukan tajdid (pembaruan) sebagai kaum intelektual bangsa untuk menuju kehidupan yang lebih baik (better life).

Alumni organ gerakan mahasiswa (GMNI, HMI, IMM, PMII, dll.) diakui atau tidak memang memiliki kemampuan lebih dalam sisi managerial skill. Terutama yang bersinggungan langsung dengan masyarakat.

Dengan fenomena tersebut dan diperkuat keyakinan atas perjuangan ideologi, banyak aktivis yang mengikuti jejak para senior/alumninya berproses di partai.

Hubungan kakak adik atau senior junior itu, meski tidak tampak dalam struktur keorganisasiannya, memiliki keeratan yang cukup kuat. Hal itu disebabkan ketergantungan atas berbagai hal yang selama ini terbangun secara sosiaohistoris dengan tanpa atau disadari.

Relasi kepartaian yang terbangun oleh masing-masing organ gerakan mahasiswa dengan beberapa partai (terutama partai besar) mengakibatkan berkurangnya objektivitas setiap gerakan ataupun isu perubahan yang diusung mahasiswa. Akibatnya, aksi-aksi jalanan yang identik dengan gerakan mahasiswa sekalipun tidak lagi "pure" sebagai panggilan ideologis untuk membela hak-hak kaum terpinggirkan ataupun untuk memberikan pencerahan kepada rakyat.

Itu semua tampak dengan sikap tebang pilih dalam melakukan aksi-aksi jalanan. Meskipun semua itu ditujukan untuk membela kepentingan kaum tertindas.

Fenomena tersebut membuat miris kita semua sebagai bagian dari rakyat maupun organ gerakan mahasiswa. Sebab, selama ini mahasiswa masih dianggap salah satu pilar demokrasi yang memiliki idealisme dan konsstensi ideologis dalam memperjuangkan nasib orang-orang kecil, kaum dhuafa, serta kaum-kaum yang terbodohi oleh sistem yang dibuat oleh penguasa/rezim.

Jika tidak ada usaha untuk memperbaiki keadaan itu, masa depan akan menjadi suram dalam kehidupan demokrasi berbangsa dan bernegara maupun usaha percepatan pembangunan manusia Indonesia seluruhnya dan sutuhnya. Yan terjadi hanyalah praktik demokrasi yang membodohi rakyat, memeras yang lemah, dan mengabaikan kaum minoritas.

Perbaikan organ gerakan mahasiswa bukan sekadar harapan atau angan yang tidak mungkin untuk dilakukan. Tetapi, itu harus berwujud usaha nyata yang datang dan dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa sebagai subjek organ gerakan itu sendiri dengan kesadaran kolektif (collective consciousness) bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah tanggung jawab intelektual untuk memperbaiki keadaan.

Mengurangi rasa ketergantungan yang diberikan para alumni organ kemahasiswaan yang telah lalu, khususnya fungsionaris partai adalah langkah berani dari mahasiswa sebagai subjek perubahan yang nanti mampu menyikapi berbagai ketidaktepatan langkah kebijakan yang dilakukan alumninya. Dengan begitu, nilai-nilai kebenaran maupun keadilan kolektif tidak terkangkangi oleh kepentingan politik sektarian.

Penajaman makna ideologi pada setiap organ gerakan mahasiswa juga mutlak dilakukan dengan bertumpu pada metode geraknya. Terlebih pada hakikat tujuan masing-masing organ yang menginginkan keteraturan sistem dengan tercapainya kesejahteraan sosial yang berkemanusiaan, adil dan beradab. Wallahu a'lam.●

Dipublikasikan pertama kali pada rubrik Prokon Aktivis
Harian Jawa Pos
Edisi Sabtu, 5 Mei 2007
Advertisements
Home / publikasi / Ideologi v Kepentingan (Golongan)